Naik Pangkat, Mengapa Harus Menulis KTI?
Naik Pangkat, Mengapa Harus Menulis KTI ?
Kelas Belajar Menulis Nusantara ( KBMN) PGRI
Pertemuan Ke - 4
Resume : 4
Gelombang : 28
Tanggal : 16 Januari 2023
Tema : Menulis Buku dari Karya Ilmiah
Narasumber : Eko Daryono, S. Pd
Moderator : Nur Dwi Yanti, S. Pd
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh
Salam sehat dan bahagia untuk semua sahabat Pejaya ( Pembelajar Sepanjang Hayat).
Status saya
sebagai ASN jabatan Fungsional dengan pangkat
Penata Tk. I, Golongan III.d
tentunya ingin terus mengalami yang namanya kenaikan pangkat/ golongan. Pada
lampiran II yang memuat Peraturan
Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Dan Reformasi Birokrasi Nomor 13 Tahun
2019 Tentang Pedoman Penetapan Dan Pembinaan Jabatan Fungsional tentang Angka
Kredit Dan Tata Cara Penetapan Angka Kredit Jabatan Fungsional terdapat 5 unsur yang dapat dihitung angka
kredit jabatan funsional yaitu :
1. Angka Kredit
Pertahun
2. Angka Kredit
Kegiatan Pengembangan Profesi
3. Angka Kredit
Kegiatan Penunjang
4. Angka Kredit
Kumulatif Untuk Penyesuaian/Inpassing Jabatan Fungsional Kategori Keterampilan.
5. Angka Kredit
Kumulatif Untuk Penyesuaian/Inpassing Jabatan Fungsional Kategori Keahlian.
Sering kali
muncul pertanyaan “ Jika ingin naik
Pangkat untuk Jabatan Funsional Guru, Mengapa Harus Menulis KTI ? ” . Jawabannya ada pada angka
kredit jabatan fungsional yang nomor 2 yaitu Angka Kredit Kegiatan Pengembangan
Profesi, Guru wajib melakukan pengembangan profesi diantaranya :
A. Perolehan
ijazah/gelar pendidikan formal sesuai dengan bidang tugas JF.
B. Pembuatan
Karya Tulis / Karya Ilmiah di bidang JF.
C. Penerjemahan/
Penyaduran Buku dan Bahan-Bahan Lain di bidang JF.
D. Penyusunan
Standar/Pedoman/ Petunjuk Pelaksanaan/ Petunjuk Teknis di bidang JF.
E. Pengembangan
Kompetensi di bidang JF.
F. Kegiatan
lain yang mendukung pengembangan profesi yang ditetapkan oleh Instansi Pembina
di bidang JF.
Dari point B sampai dengan point D input kegiatan yang
dihasilkan adalah dalam bentuk jurnal, naskah, artikel dan Buku yang
keseluruhan output itu harus dilakukan dengan menulis tentunya Karya Ilmiah
seperti PTK, Artikel/ Majalah Ilmiah, Best Praktice, Modul dan lain – lain serta
yang harus dipublikasikan . ( lampiran
dapat diakses pada link : https://drive.google.com/file/d/1tLnBf40qBKkoSq1lb0a_sASpvRk6AUPK/view?usp=share_link
).
Nah sahabat Pejaya, hal tersebut pas sekali dengan Tema pertemuan yang ke – 4 Pelatihan KBMN PGRI Angkatan ke – 28 ini yaitu “ Menulis Buku dari Karya Ilmiah “ dengan moderator Ibu Nur Dwi Yanti, S. Pd, Beliau ini adalah lulusan pelatihan KBMN PGRI Angkatan 24 dan merupakan salah satu Tim solid Om Jay dalam pelatihan KBMN PGRI Angkatan 28 ini.
Dan tak lupa
Narasumber kita yang hebat Bapak Eko Daryono, S. Pd, yang akrab disapa
dengan Mr. Yons. Beliau ini adalah Guru ASN
Fungsional Tertentu dengan status tersertifikasi pada Mata Ajar TIK dan Jabatan
terakhir Ahli Madya (Pembina, IV/a). Mr. Yons selain sebagai ASN beliau juga merupakan Penulis,
editor, narasumber diklat/seminar/ workshop baik kedinasan maupun non kedinasan
dalam bidang penulisan KTI maupun buku umum, motivator literasi serta mentor
penulisan berbagai macam karya ilmiah, sedang mengikuti Pendidikan Calon Guru
Penggerak Angkatan 7 .
Berikut adalah
karya yang dihasilkan oleh Mr. Yons yaitu :
1. 14 buku
tentang Kesejarahan
2. 2 buku
tentang Traveling
3. 10 buku
tentang Budaya Lokal
4. 2 karya
Penelitian Ilmiah
5. 4 Buku
antologi
Dari karya –
karya yang dihasilkan Mr. Yons mendapatkan Juara 1 Lomba Karya Tulis Ilmiah Tingkat
Kabupaten (2008) dan Juara 2 Lomba Guru
Berprestasi Tingkat Kabupaten (2009), untuk lebih jelasnya silahkan kunjungi https://maseko1275.blogspot.com/2021/11/profil.html
.
Setelah mengupas tentang Narasumber Mr. Yons, tema malam ini “ Menulis Buku Dari Karya Ilmiah “ sangat menarik untuk saya karena berkaitan dengan apa yang harus saya lakukan untuk kedepannya terutama dalam hal kenaikan pangkat untuk angka kredit kegiatan pengembangan keprofesian. Sebelum membahas menulis buku dari karya ilmiah terlebih dahulu saya ingin membahas apa itu Karya Tulis Ilmiah (KTI), jenis-jenis KTI , perbedaan laporan KTI dan KTI yang dikonversikan menjadi buku serta langkah - langkah mengkorkonversikan KTI menjadi Buku.
Mr. Yons
memaparkan, dalam Peraturan Kepala LIPI Nomor 2, Tahun 2014, KTI adalah tulisan hasil litbang
dan/atau tinjauan, ulasan (review), kajian, dan pemikiran sistematis yang
dituangkan oleh perseorangan atau kelompok yang memenuhi kaidah ilmiah. Secara
umum, KTI dapat dibedakan menjadi 2 yaitu KTI Nonbuku dan KTI Buku.
1) KTI Nonbuku,
meliputi:
a) KTI bidang
akademis untuk mendapatkan gelar : tugas akhir, skripsi, tesis, disertasi
b) KTI hasil
penelitian : PTK, PTS, best practice, makalah, artikel, jurnal
c) KTI berupa
ulasan atau resensi
2) KTI Buku, meliputi
a) Buku Bahan Ajar : diktat, modul, buku ajar, buku referensi
b) Buku Pengayaan : monografi, buku teks, buku pegangan, buku panduan
c) Buku kompilasi : bunga rampai, prosiding
Narasumber memaparkan ternyata tidak semua KTI itu berupa buku. Memang secara wujud, PTK, PTS, Tugas Akhir, skripsi, tesis, desertasi itu berupa buku, namun bukan buku. Lebih tepatnya adalah laporan hasil penelitian dan sifat publikasinya pun terbatas. Secara umum struktur penulisan KTI sebagai berikut :Struktur di
atas umumnya dijadikan sebagai standar dalam menyusun bab-bab dalam KTI
meskipun untuk KTI sejenis skripsi, tesis, desertasi, tugas akhir memiliki gaya
yang berbeda di setiap kampus.
Apa sih perbedaan laporan KTI dan KTI yang dikonversi menjadi buku, nah berikut penjelasannya.
Secara subtansi isi, tidak
ada perbedaan isi laporan KTI dengan isi buku hasil konversinya. Karena
sejatinya isi buku mencerminkan keseluruhan isi laporan KTI. Secara sistematika, tentunya gaya
penulisan KTI dengan penulisan buku tentu berbeda. Ada penyesuaian-penyesuaian
sistematika KTI yang dikonversi menjadi buku dengan tujuan agar kesannya tidak
kaku. Misalnya penomoran tiap sub bab-sub bab. Secara Bahasa, meski sama-sama ilmiah, hasil konversinya tentu
harus dimodifikasi sehingga Bahasa dalam bukunya lebih luwes, bersifat lugas
dan tidak lagi mencantumkan kata-kata seperti penelitian ini, peneliti, teman
sejawat, penulis.
Setelah mempelajari apa itu
KTI, jenis – jenis KTI Mr. Yons
memaparkan apa saja langkah-langkah mengubah atau mengkonversi KTI menjadi
buku, berikut langkah – langkah mengkonversi KTI menjadi Buku.
1. Memodifikasi Judul
Judul KTI umumnya
mengandung unsur variabel penelitian, objek penelitian, dan seting penelitian
(baik tempat maupun waktu). Judul buku hasil konversi harus seperti judul
buku-buku pada umumnya, tidak lagi seperti KTI. Salah satu ciri judul buku yang
baik adalah menarik, judul tersebut mampu menimbulkan rasa penasaran atau
keingintahuan pembaca. Selain menarik, judul buku tidak harus panjang, tapi
mudah diingat oleh pembaca, dan judul harus mencerminkan isi buku.
Contoh konversi judul
KTI menjadi judul buku
JUDUL LAPORAN KTI :
PENERAPAN
STRATEGI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIFE EVERY ONE IS TEACHER DALAM PENINGKATAN
MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR PADA MATERI MICROSOFT WORD PADA SISWA VII F SMP
NEGERI MOJOLANBAN SUKOHARJO SEMESTER GENAP TAHUN PELAJARAN 2017 / 2018.
JUDUL BUKU :
ASYIKNYA
BELAJAR MICROSOFT WORD DENGAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIFE EVERY ONE IS TEACHER
2. Memodifikasi Sistematika dan Gaya Penulisan
KTI Nonbuku yang berupa laporan hasil penelitian, umumnya ditulis dengan sistematika dan penomoran yang baku. Pada saat laporan tersebut dikonversi menjadi buku, maka harus dimodifikasi gayanya sesuai dengan gaya penulisan buku. Tidak tampak lagi adanya sub bab-sub bab yang membuat isi buku seolah-olah terpisah-pisah.
a) Modifikasi Bab I
Bab I yang biasanya berisi PENDAHULUAN boleh tetap dipertahankan judulnya dengan PENDAHULUAN atau PEMBUKA atau kata lain yang menggambarkan kemenarikan buku. Adapun secara struktur, tidak diperlukan lagi subbab, seperti latar belakang, permasalahan, tujuan, manfaat dalam bentuk angka-angka. Fokusnya lebih mengeksplor latar belakang.
b) Modifikasi Bab II
Bab
II dalam PTK biasanya berisi bab dan subbab, namun dalam konversinya harus
disederhanakan menjadi bab. Contoh Bab II dalam KTI,
Setelah dikonversikan menjadi buku :
Substansi bab 3 sebenarnya
lebih terfokus pada metode, teknik pengumpulan data (instrumen) serta analisis
data. Jika berupa PTK berisi langkah-langkah tindakannya
Ada
beberapa alternatif yang dapat diterapkan yaitu benar-benar menghilangkan bab
III, menginclude bab 3 di bab 2 atau menarasikan bab 3 di awal bab pembahasan.
d) Modifikasi Bab IV
Bab ini merupakan bagian
inti isi buku, sesuai dengan judul buku. Bab IV tidak lagi menggunakan judul
Hasil Penelitian dan Pembahasan, namun disesuaikan dengan konteks buku. Judul
buku menjadi pilihan sebagai judul Bab IV seperti Strategi Tim QUIZ
dalam Pembelajaran TIK. Pada buku bab IV dapat dimasukkan tabel,
grafik, foto-foto kegiatan maupun hasil penelitian yang menyatu dalam buku. Bab
IV tidak lagi berisi data mentah seperti nilai dari setiap siswa berikut
namanya. Foto pun hanya sekedar yang dibutuhkan sebagai pendukung.
e) Modifikasi Bab V
Pada laporan hasil
penelitian, biasanya berisi PENUTUP. Judul tersebut dapat
dipertahankan. Hanya saja, isi bab tidak hanya simpulan dan rekomendasi
(saran) saja, namun ditambahkan temuan yang terkait dengan hasil penelitian.
f) Modifikasi Lampiran
Lampiran yang disertakan hanyalah instrument penelitian atau data matang yang mendukung, bukan data-data mentah.
(dikutip dari Materi melaui chat WAG KBMN PGRI Angkatan 28 )
sekian resume pertemuan ke - 4 yang dapat saya sajikan, semoga menjadi ilmu yang berkah dan bermanfaat untu sahabat Pejaya.
semoga bermanfaat ......





Mantap, Semangat terus!
BalasHapusLuar biasa....
BalasHapusAyooo bu..naik naiiik..
BalasHapusPangkatx
🦾🦾. Semangaat
Yess. Mantul..
BalasHapus